sxpriyan’s blog

Blog tentang apa saja

Menelusuri Terowongan Rahasia Penghubung Gaza dengan Mesir (2-Habis)

[ Rabu, 21 Januari 2009 ]
47679large

Jual Paket Kambing Transfer Lubang Rp 1 Juta Per Ekor

Banyaknya terowongan rahasia di Rafah bukan semata-mata alat perjuangan melawan Israel, tapi juga aset ekonomi. Sebab, dari sana para pemilik terowongan bisa mendapat penghasilan ekonomi dari transaksi jasa perdagangan.

KARDONO SETYORAKHMADI, Rafah

LELAH karena tidak menemukan satu pun anfaq (terowongan) seperti yang diceritakan penerjemah saya, Ibrahim, alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, siang itu saya kembali ke tanjakan Makbar Rafah (Gerbang Rafah). Tempat itu dihuni para jurnalis dan pekerja kemanusiaan yang setengah putus asa menunggu izin masuk ke Jalur Gaza.

Di sana saya bertemu Dokter Sarbini Saut Murad, dokter asal Indonesia yang menjadi relawan di MER-C (Medical Emergency Rescue Committee). Dokter ini Sabtu (18/1) lalu mendapat izin dan berangkat ke Jalur Gaza bersama tiga koleganya sesama dokter asal tanah air.

”Susah membuktikannya, karena semuanya tertutup di sini,” kata Sarbini saat saya bertanya tentang anfaq. Tak lama kemudian datanglah serombongan remaja laki-laki ABG yang sering berkeliaran di kawasan perbatasan. Entah mengapa, seorang di antaranya menyapa saya. Karena saya tak bisa berbahasa Arab, Sarbini kemudian menerjemahkannya untuk saya.

Rupanya, mereka menyapa karena mengira saya orang Palestina. ”Katanya, wajahmu mirip orang Palestina,” kata Sarbini lantas terkekeh. Saya juga langsung terkekeh, karena baru kali ini saya yang Jawa tulen kelahiran Surabaya bisa disangka orang Palestina.

Saya lalu meminta Dokter Sarbini bertanya soal anfaq kepada para pemuda ini. Awalnya mereka kaget ketika ditanya soal itu, meski kemudian agak sedikit terbuka. Hanya, kata Sarbini, mereka ingin berbicara dan membahas ini langsung dengan saya. ”Karena kamu tak bisa bahasa Arab, mereka justru jadi lebih percaya kepada kamu daripada saya,” kata dokter berewokan tersebut.

Rupanya, tak bisa berbahasa Arab kadang justru menguntungkan. Padahal, sebelumnya saya mendapat pengalaman memalukan karena tak bisa berbahasa Arab saat berada di Kairo, Rabu (14/1) malam. Saat itu saya berada di Terminal Abbasiya, melihat jadwal keberangkatan angkutan Kairo-Rafah.

Begitu masuk pintu penjagaan, seorang polisi bertanya. Saya jelaskan bahwa saya dari Indonesia dan tak bisa bahasa Arab. Selanjutnya, dalam bahasa Inggris, laki-laki itu bertanya apakah saya muslim. Saya mengangguk, dan kemudian menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia. Aneh, dia mengernyit, lalu bertanya apakah orang Indonesia kalau salat pakai bahasa Indonesia. Tentu tidak, kata saya.

“Lalu, kenapa kok saya tidak bisa bahasa Arab?” katanya lagi. Saya jelaskan bahwa di Indonesia banyak orang bisa mengaji, tapi tak bisa berbahasa Arab.

Dia masih tak percaya dan saya disuruh melantunkan surat Al-Fatihah. Malam itu juga, di pos penjagaan terminal saya melantunkan Al-Fatihah. ”Do you believe me now (Kamu percaya sekarang)?” tanya saya setelah selesai membaca. Pria itu menggeleng-gelengkan kepala, tapi sikapnya jauh lebih ramah.

Kembali ke anak-anak ABG Rafah tadi. Mereka kemudian mengajak saya ke kedai tempat minum teh panas. Saya lebih banyak pakai bahasa Tarzan, karena kemampuan berbahasa Arab saya sama dengan kemampuan mereka berbahasa Inggris. Mereka ingin tahu mengapa saya ingin mengetahui soal anfaq. Saya jelaskan saya wartawan dan ingin tahu langsung soal terowongan.

Saya pancing dengan pura-pura mengatakan kalau mereka sebenarnya juga tidak tahu soal terowongan. Pancingan saya berhasil. Mereka panas disebut tidak tahu. Saya menantang, kalau memang ada terowongan, tolong potretkan. Saya segera mengeluarkan kamera digital.

Salah satu di antaranya lantas pergi. Sekitar setengah jam kemudian, ABG bernama Mahmood itu kembali dan menyerahkan kamera. Saya lihat dia memotret lima kali. Satu memotret mulut terowongan, dan empat jepretan lainnya memperlihatkan bagian dalam mulut terowongan. Sayangnya, potret itu juga menunjukkan terowongan yang telah tertutup.

Salman -yang tampak dituakan oleh geng ABG itu- menjelaskan nyaris semua anfaq sudah ditutup. Ada yang diuruk dengan batu besar. Ada yang dibom bagian tengahnya supaya longsor dan tak bisa digunakan lagi. Selain itu, ada terowongan yang sebelum ditutup, disemprot dengan bahan kimia yang menyengat sehingga para penerobos tak kuat menahan bau.

Saya kemudian meminta mereka menunjukkan terowongan yang masih terbuka. Mendengar permintaan itu, Salman sempat melotot. Tapi, saya tetap mendesaknya. Akhirnya dia mengalah dan meminta saya kembali datang usai salat Magrib. “Jangan ambil gambar,” pintanya. Saya menyanggupi.

Setelah magrib, saya datang bersama Rahmat, teman saya yang juga mahasiswa Universitas Al-Azhar. Dia membantu saya untuk jadi penerjemah. Kami janji bertemu di Makbar Rafah. Sampai di sana, Salman dan dua orang lainnya telah menunggu.

Kami kemudian berjalan ke arah utara sejauh sekitar 1,5 kilometer. Udara gurun Sinai yang dingin menelusup ke jaket. Sambil berjalan, Salman bercerita mengenai bagaimana “modus” penyelundupan itu. Menurut dia, terowongan tak hanya menghubungkan satu kebun (di Rafah Mesir) dengan kebun di seberang Rafah Gaza, tapi juga antara rumah dan rumah. Besar mulut terowonan bervariasi.

Yang paling besar adalah mulut terowongan yang ditemukan di dekat dengan gedung Imigrasi Mesir. Diameternya saja tiga meter. Selain itu, terowongan tersebut paling bagus karena konstruksi mulut terowongannya sudah dipasang batako, sehingga terkesan semi permanen. Namun, awal Januari lalu kedok terowongan tersebut terungkap. Dua kurir terowongan yang membawa dua karung bahan makanan tertangkap polisi Mesir saat masuk tengah malam. Bagian dalam terowongan kemudian dibom, sedangkan dua kurir itu hingga kini belum ada kabarnya.

Selain dimotivasi oleh keinginan membantu warga Gaza yang terisolasi blokade Israel, motif lain warga Rafah Mesir membuat terowongan adalah ekonomi. Umumnya yang diselundupkan adalah bahan makanan. Barang-barang itu ditransaksikan per paket. Satu pesanan paket karung makanan berisi roti dan macam-macam makanan lain seharga 200 pounds (sekitar Rp 400 ribu), misalnya, dibayar warga Rafah Palestina sekitar 500 pounds (sekitar Rp 1 juta). Sisa 300 pounds itulah yang menjadi keuntungan para kurir dan pemilik “rumah” (yang punya terowongan).

Karena tak bekerja sendirian, uang itu dibagi rata. Biasanya bertiga. Selain itu, bila ada permintaan khusus (berupa komoditas hidup seperti kambing atau sapi, harga menyesuaikan). Memang susah dibayangkan bagaimana kambing (bahkan sapi) bisa dibawa lewat lubang sempit itu. Yang jelas, untuk mendapatkan kambing, harga “paketnya” 500 pounds (Rp 1 juta). Sedangkan untuk sapi bisa sepuluh kali lipatnya.

“Saya pernah menjadi salah satu kurir,” kata Salman. Malam makin larut. Kami lalu mempercepat langkah menuju terowongan yang disebut remaja berhidung mancung itu.

January 21, 2009 - Posted by | Berita

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: